Rabu, 22 November 2023

Perbudakan modern

Kita selama ini salah paham/ dibodohi: kita mengira orang miskin butuh (uang) orang tajir. 
Padahal sebaliknya: orang tajir lah yang butuh pengetahuan+keterampilan+tenaga orang miskin. 

Tapi overpopulasi orang miskin juga membuat orang tajir jadi jumawa, "kalau kamu ga mau, masih banyak orang lain yang mau (jadi budak saya).." 

Padahal kalau orang miskin kompak #boikot , lumpuhlah orang tajir.

Rabu, 16 Februari 2022

tanah & rumah

Masalah generasi milenial / Gen-Y (and soon Gen-Z) di seluruh dunia.

Property mahal karena Gen-X menjadikan tanah & rumah-rumah (plural) sebagai investasi hari tua.

https://twitter.com/ainunnajib/status/1493816419389087745?t=1q1n8k8joLiVBgazjQubaw&s=19

Kamis, 12 Agustus 2021

Orang India di Indonesia belakangan ini

Masyarakat Indonesia mesti waspada. 
Sejak beberapa tahun terakhir, warga negara India mulai berdatangan ke Indonesia secara diam-diam
Mereka menyadari tingkat pendidikan bangsa ini yang kebanyakan masih relatif rendah dapat mereka salahgunakan demi kepentingan kocek & kaum mereka sendiri. 
Selain itu, mereka juga tahu soal mental inlander nya kebanyakan orang Indonesia yang memuja, menyembah & takut pada orang-orang tajir & orang asing (termasuk India) yang dikira/ dianggap lebih superior; mentang-mentang negara India saat ini lebih maju teknologinya, sudah meluncurkan satelit, bisa membuat nuklir bahkan sanggup memaksa bangsa Barat (baca: bule) memakai jasa mereka (misalnya : dokter-dokter di Amerika Serikat). 

Orang-orang India ini terutama bergerilya menyusup lewat 2 jalur jabatan pekerjaan : mengincar & merebut jabatan-jabatan tinggi di perusahaan di Indonesia dengan iming-iming kepintaran dalam bekerja sementara mau banting harga dibayar gaji lebih murah. 
Jalur lainnya : niaga/ dagang/ usaha. 
Perhatikan cara mereka berdagang : pasang harga lebih murah baik untuk barang dagangannya sendiri maupun ongkos kirim dan lain-lain. Jangkauannya pun lebih jauh dari pedagang Indonesia. Misalnya : ada tukang jamu di Gading Serpong, jualan sampai ke pembeli di Bekasi. Lalu ada penjahit di Pasar Baru yang jualannya sampai Tangerang Selatan bahkan pulau lain. 
Tentu tidak masalah andai sesuai ketentuan dan etika dagang. 
Masalahnya, mereka ditengarai (silakan periksa/ buktikan sendiri) membayar pegawai, jasa kurir, dll dengan sifat "raja tega". Mungkin terbiasa begitu di negaranya sendiri, namun pantaskah mereka bawa adatnya ke negara lain, yaitu negeri kita ini, Indonesia? 
Ingat, orang Indonesia punya prinsip yang seharusnya/ sepatutnya juga dipatuhi orang-orang India ini : "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." 
"Lain padang, lain belalang."

Tentu tidak semuanya dari mereka itu jahat, ada juga warga India yang masuk Indonesia dengan niat baik, hanya sekadar ingin bertahan hidup dengan lebih layak. Karena di negaranya sendiri, sesama mereka joroknya bukan main & lalu lintasnya lebih parah dari Indonesia. 

Kita hanya mewaspadai yang berniat jahat hendak menjajah Indonesia (lagi). 

Minggu, 25 Juli 2021

Apa gunanya sekolah.

Belakangan ini banyak yang mempertanyakan apa gunanya pelajaran di sekolah dalam dunia (kerja) nyata. 
Saya tidak sepenuhnya menentang pandangan tersebut. 
Namun sadarilah : 

1. Apa yang diajarkan di sekolah memang bersumber dari kehidupan/ dunia nyata sehari-hari. Perhatikan saja isi buku-buku pelajaran. Tentu saja, secara alami, isi pelajaran di sekolah akan terus tertinggal dari dunia nyata. Karena kurikulum sekolah "menunggu" pembaruan (update) informasi dari dunia nyata. 

2. Manfaat sebenarnya dari (pelajaran di) sekolah adalah MELATIH CARA BERPIKIR siswa-siswi : menghafal, berhitung, dan lain-lain, untuk menghadapi persoalan kelak di kehidupan nyata sehari-hari. Bahwa kehidupan seringkali tidak sesederhana yang kita kira. Karena itulah pelajaran di sekolah melatih ketangkasan (kecepatan, daya tangkap, problem solving, dsbnya) berpikir kita, para murid. 

Tidak mungkin sekolah yang hanya 12 tahun memberi otak kita seluruh pengetahuan yang kita butuhkan untuk sepanjang hidup puluhan tahun berikutnya. Sekolah paling-paling hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dasarnya. Sisanya dan selebihnya, sebagaimana pesan atau amanat guru dan kepala sekolah saat kita lulus, tetap perlu kita pelajari sendiri (belajar secara mandiri). Belajar dari kesalahan, pengalaman sendiri atau dari orang lain (mentor) seperti senior, atasan di tempat kerja, dll. Bahwa belajar itu memang sifatnya terus-menerus dan seumur hidup. 

Namun memang saya juga mendorong agar sekolah jangan hanya "mengisi otak/ pikiran" murid saja dengan teori (belajar yang hanya duduk di kelas, melihat & mendengar penjelasan guru), melainkan dilanjutkan/ dicampur juga dengan praktek : belajar secara motorik/ fisik. Contoh (selain pelajaran olahraga) : tali-temali, bertukang, elektronika, memasak/ kuliner, bercocok tanam. Dosen saya pernah menjelaskan tingkatan belajar : kognitif - afektif - psikomotorik.