Rabu, 31 Desember 2025

Alasan di balik penyimpangan LGBT?

Pada dasarnya, saya sebetulnya tidak mendukung penyimpangan semacam LGBT dan lainnya. 

Namun belakangan ini, barulah saya mulai paham mengapa, misalnya, ada lelaki yang menjadi gay/ homoseksual. Ternyata, tuntutan sebagian kaum wanita terhadap para lelakinya beberapa tahun terakhir memang makin berlebihan atau keterlaluan : mereka mengharapkan para lelakinya menjadi lelaki atau manusia nan sempurna. 

Mereka menuntut agar lelakinya tajir/ kaya raya, juga mengerjakan tugas-tugas rumah tangga seperti memasak, mencuci dan lainnya, lalu bertubuh macho berotot dan six pack ala binaragawan atau bintang film, serta berkulit dan berwajah tampan mulus dengan menggunakan perawatan kulit (skin care), juga piawai dalam hubungan intim. 

Tuntutan semacam ini sudah tak lagi wajar/ masuk akal. Pantas saja para wanita ini kesulitan menemukan apalagi mendapatkan lelaki idamannya tersebut. Kita sebagai manusia perlu memberikan ruang toleransi (dalam batas sewajarnya) untuk kekurangan/ ketidaksempurnaan (flaws) orang lain (termasuk lawan jenis kita). Jadi anggaplah semacam istilah "margin of error" dalam ilmu statistika. Mungkin para wanita ini menganggap dirinya "sempurna" sehingga tidak sadar bahwa mereka telah jatuh ke dalam lumpur kotor bernama KESOMBONGAN/ arogansi. 

Tidak heran kalau akhirnya sebagian lelaki menganggap, lebih "logis" atau mudah untuk berpasangan/ bercinta dengan sesama lelaki lainnya : mereka lebih mudah untuk saling memahami satu sama lain, menurunkan ego masing-masing, juga tidak sombong, jual mahal atau jaga image (ja-im) saat pasangannya meminta jatah seks, tidak perlu ada drama berlebihan saat hendak menyatakan rasa suka kepada calon pasangannya tersebut (lebih straight to the point). 

Namun tetap saja, sekali lagi, pada prinsipnya saya tidak mendukung/ tidak menyetujui penyimpangan seperti LGBT dan semacamnya. Hubungan antar pria dan wanita yang sedang kurang nyambung ini yang seharusnya diperbaiki, buka komunikasi/ ruang dialog, bukannya kita malah "menciptakan solusi" jalan pintas yang aneh nyeleneh.